Hehehe... masih ingat dengan Tama? Udah lupa pastinya. Itu lho… Tama anak Mak Martini yang kerjanya ngelamuuun… aja. Sekarang nih ceritanya si Tama udah dapet job (idih... job). Pekerjaan maksudnya. Walaupun masih freelance atau pekerja lepas, tapi lumayan lah... dikit-dikit dapet duit. Itung-itung buat biaya sekolahnya yang sempet semrawut gara-gara kebiasaan ngelamunnya itu. En, gimana kabar Mak Martini? Baik-baik aja kok. Masih cerewet kayak dulu. Walaupun intensitas kecerewetannya nggak setinggi dulu. Yuk, langsung cekidot...
Udah 2 jam berlalu ketika Tama masih saja duduk termangu di depan tong sampah yang terletak di depan sekolahnya, SMP Pancasila.
“Aduuuh...... nih orang lama banget ditungguin juga!” ujar Tama kesal dalam hatinya. Padahal sekolah sudah sepi, namun ia tak henti mondar-mandir gelisah. Ia menunggu seseorang. Akhirnya seseorang itu muncul juga dari dalam sekolah. Seseorang yang item,dekil,bau, parah deh pokoknya! Dia Otong, teman sekelas Tama.
“Lama banget sih lu!”
“Tunggu bentar napa? Nggak tau apa temen lagi susah! Bantuin kek, malah marah-marah!” Otong balik ngomel.
“Ya deh... lagian, siapa suruh ngegodain cewek itu. Siapa tuh namanya? Lupa gue. Udah tau cewek itu jago karate.”
“Iya deh... Namanya juga usaha Tam, biar muka pas-pasan gini kan siapa tau ada yang mau.”
“Alah... biar dikayangapain juga nggak bakalan mau dia. Hahaha... Sakit? Tadi mana yang kena tendang? Kasihan... sampe nyebur ke kali ya?” Ledek Tama.
“Alaaah... lu mah! Kalo nggak karena gue juga lu nggak bakal jadi kayak gini.”
“Ya deh, ya deh... gue kan cuma bercanda Tong, hehehe... sini, aku anter ke rumahmu!”
Lalu dengan jalan yang terpincang-pincang setelah kakinya kena tendang oleh cewek yang barusan ia godain, Romlah, Otong pun membonceng sepeda ontel milik Tama dan menuju ke rumahnya. Mukanya yang imut (item mutlak!) jadi tambah semrawut setelah nyemplung ke kali di belakang sekolahnya.
Sekitar setengah kilometer jauhnya akhirnya sampai juga ke rumah Otong yang terletak di sebuah gang sempit dengan latar belakang sawah yang cukup luas. Ini namanya desa Setengahkilo (apaan..... ). Apa aja boleh... hehehe....
Desa Setengahkilo nggak jauh-jauh juga kok dari desa tempat Tama tinggal. Ya kira-kira setengahkilo lah jauhnya dari sana.
Otong segera masuk ke rumahnya bersama Tama. Namun setelah Tama sampai di depan pintu Tama teringat sesuatu yang membuatnya kemudian berpamitan dengan Otong.
“Eh, cepet banget? Main sini dulu napa?” cegah Otong.
“Sorry Tong, lain kali aja mainnya, ada urusan penting nih!” lalu Tama segera mengayuh sepedanya dan pergi meninggalkan rumah Otong. Demikian cepatnya Tama mengayuh sepeda ontel kesayangannya itu sampai-sampai ia mungkin tak mendengar deru kendaraan yang lalu lalang. Dan, tahukah apa urusan penting Tama itu? Kebelet pipis.
Kenapa kebelet pipis saja harus jauh-jauh ke rumahnya? Bukannya di rumah Otong juga ada kamar kecilnya?
Begini saudara-saudara. Utama sudah kapok masuk kamar kecil rumah Otong. Percaya nggak percaya, kamar kecil (atau kita sebut jamban aja deh...) yang berada tak jauh dari belakang rumah Otong itu angker, banyak hantunya. Pernah pada suatu malam, malam Jum’at kliwon lagi, ketika Tama main ke rumah Otong dan kebelet pipis di sana, pertama dan terakhir kali Tama pipis di jamban itu. Kenapa? Karena sewaktu Tama pipis di situ, Tama merasa aneh.... sehingga ia meminta Otong menemaninya di luar jamban. Apalagi jamban itu gelap dan baunya... jangan ditanya deh...
Lalu Tama mencium bau sesuatu yang khas, seperti bau kemenyan, bau pete, ada pesing-pesingnya dikit, yang berasal dari atas jamban yang terbuka itu. Di atas jamban memang ada pohon pete, tapi masa ada bau kemenyan, pesing lagi! Masa iya ada orang pipis di atas pohon pete?
“Tong, lu kencing ya?”
“Heh? Apaan... bukannya lu yang kencing Tam?” bantah Otong
“Eh, aku belum sempet buka celana, kok udah pesing duluan?”
“Lu gimana sih Tam? Mana ada jamban wangi?”
“Mana ada jamban bau kemenyan?” debat Tama kemudian.
“Mana ada?” Otong setengah tak percaya.
Lalu sementara dua anak itu berdebat tentang bau di jamban itu, tiba-tiba Tama merasa diguyur sesuatu yang... yang... bau pesing! Seperti air kencing! Dan saat itu pula bulu kuduk Tama jadi merinding... Karena penasaran, Tama pun mendongak ke atas melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dan....
“T-tong,Tong.... ad-ada, g-gen,gen,gen...” kata Tama dengan terbata-bata.
“Ada apaan? Gentong?” ujar Otong sok tahu.
“Bukan! Gen...”
“Genteng!”
“Salah! Gen... Gen...”
“Ah! Aku tahu sekarang! Gendang!”
“Ah! Kelamaan lu! Ada genderuwo lagi pipis tau!” ujar Tama kesal hingga ia tidak gagap lagi.
“Oh, genderuwo... bilang dong dari tadi...” kata Otong tanpa sadar. Setelah itu ia sadar akan apa yang Tama katakan tadi, “Eh, tadi apa lu bilang? Genderuwo?”
“Iya,tuh!” kata Tama sambil menunjuk ke atas, ke arah pohon pete.
“Hah? Di kepala ada rambut, cabuuuut!!!!!!!” Teriak Otong meninggalkan Tama sendirian di situ. Udah ketakutan masih sempat-sempatnya berpantun.
“Eh, tungguin dong!” seru Tama sambil menarik resleting celananya yang setengah terbuka. Padahal ia tadi belum sempat pipis. Hal yang buruk pun terjadi. Kakinya gemetar dan tidak bisa dipakai berlari. Sehingga ia pun terpaksa pipis di celananya. Haduh... payah...
“Awas lu Tong!” ancam Tama.
Nah, gitu ceritanya sampai-sampai Tama tidak lagi berani pipis di rumah Otong. Soalnya takut dipipisin lagi sama genderuwo penunggu pohon pete itu. Apalagi malam ini juga malam Jum’at Kliwon, hi....
Kembali ke masa kini, singkat cerita Tama sudah sampai di rumahnya.
Karena sudah tidak tahan lagi, Tama pun bergegas menuju ke kamar kecil di belakang rumahnya. Sesudah menunaikan hajatnya, Tama pun kembali masuk ke kamarnya. Ia membuka tas sekolahnya. Ia terkejut karena terdapat kado warna biru beserta kartu ucapan di atasnya. Tama membaca kartu ucapan itu kemudian:
Buat orang yang sepantasnya dapatkan ini
Dari orang yang sangat dekat tapi sangat jauh darimu
Eh, tapi sebelum Tama membuka isinya, ada seseorang yang mengetuk pintu depan rumah Tama.
“Assalamualaikum, Tama! Tama!” seru seseorang yang mengetuk pintu tadi.
“Kok kaya suara Otong? Ah, ada apa lagi sih tuh anak?” gumam Tama dalam hati.
Lalu Tama pun membuka pintu. Dilihatnya Otong yang masih ngos-ngosan mengejar-ngejar Tama dari Desa Setengahkilo sampai Desa Sukamakan. Kenapa nggak pakai sepeda sih? Dilihat dari raut mukanya, Otong terlihat takut campur tegang.
“Ada apa Tong?” tanya Tama kemudian.
“Tam, lu terima kado yang warnanya biru nggak?”
“Kado yang mana? Oh, iya! Yang itu! Sebentar,sebentar.” Lalu Tama bergegas menuju ke kamarnya untuk mengambil kado misterius tadi.
“Ini?” tanya Tama sambil menyodorkan kado tersebut pada Otong.
“Iya, ini. Betul!” lalu Otong merogoh saku celananya untuk mengambil hape bututnya. “Halo? Iya Pak! Sudah, sudah ditemukan. Oh, baik Pak!” Otong menelepon seseorang entah siapa.
“Lu apa-apaan sih Tong? Ini kan cuma kado!” kata Tama heran atas tingkah laku Otong.
“Lu tahu isi kotak kado ini apa?”
“Emang apaan Tong?”
“Ini bom!”
“Apa?????” ujar Tama kaget bercampur heran. Mana mungkin seseorang seperti Tama yang nggak punya salah apa-apa diteror bom? Lagipula, bagaimana Otong tahu isi kotak itu adalah bom?
“Jangan main-main lu Tong!”
“Gue nggak main-main! Tadi gue ditelpon intel yang katanya sedang mencari teroris yang berkeliaran di Desa ini! Desa Sukamakan! Dan katanya si teroris meninggalkan sebuah bom yang dibungkus di sebuah kotak kado warna biru.” kata Otong menjelaskan.
“Ah, masa?” Tama masih belum percaya. Ada sesuatu yang janggal dari keterangan Otong tadi. Bagaimana mungkin teroris masuk ke rumahnya dan meninggalkan bom itu di dalam tasnya tanpa ada jejak apapun? Lagipula, masa kejadiannya bisa secepat itu? Lalu ia pun mencoba membuka amplop itu. Namun tidak jadi karena dicegah Otong.
“Jangan dibuka! Ntar meledak!” kata Otong dengan ekspresi agak lebay.
“Alah,lu apaan sih?” lalu SREEET! Robeklah bagian atas kado itu. Lalu Otong berteriak keras. “Satu,Dua,Tiga!!!!”
“Serbuuuuu....!!!!!” dari samping kiri dan kanan serta semak-semak rumah Tama muncullah lima serdadu tempur yang hendak menyerang Tama. Bukan serdadu beneran sih... senjatanya aja ada yang pake telur busuk, tepung, air sebaskom, dan macem-macem deh pokoknya. Namun Tama berhasil menghindari serangan tiba-tiba itu dengan menjadikan Otong sebagai tamengnya. Sialnya, Otong jadi bulan-bulanan serangan kombinasi itu.
“Aduuuh..... Woy! Kenapa aku yang diserang sih? Ini kan nggak sesuai skenario!” bentak Otong kesal kepada lima orang serdadu yang tak lain dan tak bukan adalah teman sekolah Tama dan Otong.
“Cut,cut,cut! Mana ekspresinya???!” muncullah sosok lain di balik kelima anak itu. Dia Alfredo Jumantono alias Apet, sutradara dari penyerangan terhadap Tama.
“Tong! Bagus Tong, bagus. Ekspresinya dapet!” katanya kepada Otong.
“Dapet apaan? Dapet bau sama kotornya iya...” kata Otong dengan raut muka kesal.
Lalu serempak mereka tertawa kecuali Otong.
“Kalian sebenarnya pada ngapain sih kesini?” tanya Tama masih bingung dengan suasana itu.
“Alah, lu pura-pura nggak tahu Tam.” kata Apet.
“Apaan?”
Lalu dari belakang Apet muncul teman-teman Tama yang lainnya membawa kue tart yang ditujukan untuk Tama. Mereka pun kompak menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Tama. Setelah kue sampai di depan Tama, semua diam.
“Liat tuh, yang bawa kue siapa? Cye....” bisik Otong kepada Tama.
“Luna?” kata Tama lirih.
“Tam, happy birthday ya.....” kata Luna sambil tersenyum-senyum malu.
“Cye...., Tam, sikat!” bisik Otong lagi di samping Tama.
“Apaan sih lu Tong! Eh, iya Lun, thanks ya kuenya, jadi ngrepotin nih,”
“Udah, nggak apa-apa. Harusnya aku yang minta maaf karena udah bikin halaman rumahmu kotor begini.”
“Cut! Cut! Perfect! Ini baru perfect!” seru Apet masih bertingkah seperti sutradara saja. Maklum, obsesinya emang begitu.
“Heh,heh,udah, jadi sutradaranya udah...” kata Dodi teman disampingnya.
“Ya udah, gimana kalo sekarang kita makan kue ini bersama?” ajak Tama kepada teman-teman lainnya.
Lalu Tama meniup lilin di atas kue ulang tahun itu. Semua anak bertepuk tangan dan bersorak gembira. Setelah itu, Tama dibantu Luna memotong-motong kue itu dan membagi-bagikannya kepada teman-teman yang lainnya. Otong masih terlihat kesal karena cuma dia yang bajunya paling kotor gara-gara insiden tadi.
Mereka pun berpesta sampai sore. Sebuah pesta yang tak pernah diduga oleh Tama, apalagi dengan hadirnya Luna, sahabat Tama yang sebenarnya ia sukai, namun Tama tak kunjung berani mengatakannya kepada Luna.
Perlu diketahui, bahwa Luna lah yang sebenarnya menyusun skenario ini. Mereka berkumpul sepulang sekolah di belakang sekolah, di bawah pohon sawo yang terletak di tepian kali. Itulah sebabnya Tama tadi siang menunggu Otong lama sekali. Tapi, di sini peran Otong penting sekali. Tanpa Otong, mungkin pestanya jadi berantakan. Walaupun Otong harus menerima berbagai cobaan.
Sebenarnya tadinya pesta akan diadakan di rumah Otong. Tapi berhubung Tama cepat-cepat ingin pulang, Otong menyerukan perubahan rencana kepada yang lainnya. Dan Otong pun terpaksa harus mengejar Tama ke rumahnya. Aneh memang. Kenapa nggak pakai sepeda aja kalo emang jarak desanya ke desa Tama sejauh setengahkilo? Bukannya lebih cepat? Ternyata ini jawaban Otong: nggak punya sepeda.
“Ohh... jadi gitu ceritanya sampai Otong ngarang cerita ada bom segala? Pantesan tadi pas pulang sekolah ditungguin lama banget. Oh, iya, kadonya tadi mana?” salah seorang teman lalu menunjukkan letak kado warna biru itu. ”Ini isinya beneran kan, Lun? Bukan bom kan?” tanya Tama kemudian.
“Hehehe....,iya beneran. Buka deh, isinya apa.” jawab Luna.
“Hah? Ini kan...”
“Itu bukumu kan?”
“Iya, ini bukuku yang sempat hilang dari minggu lalu. Padahal ini buku penting buat bahan artikel majalah nanti. Thanks banget ya, Luna. Kamu memang sobatku yang paling baik!” ketika mereka hampir saling berpelukan, Mak Martini muncul dari dalam rumah.
“Eh, acara apaan ini?! Bubar, bubar! Ngganggu orang lagi tidur aja!” bentaknya.
Pesta selesai. Teman-teman Tama pun bergegas pergi. Menyisakan Tama yang terpaksa harus membersihkan halaman rumahnya sendiri. Dari kejauhan tampak Luna tersenyum sambil melambaikan tangan kepadanya. Ketika Tama hendak membalas lambaian tangan Luna, Mak Martini kembali ngomel-ngomel,
“Tama! Bersihin dulu halamannya sampai bener-bener bersih! Siapa suruh bikin pesta-pestaan di sini! Dasar!”
“Iya,iya Mak...” kata Tama sambil menggerutu di dalam hatinya. Namun ia merasa bahagia sekali sore itu.
TAMAT
(17-03-11)
Minggu, 20 Maret 2011
Home »
Coretanku
,
Prosa Saya
»
Kado Ultah Buat Tama
Kado Ultah Buat Tama
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar